JAKARTA, iNews.id - Nama bahasa daerah Aceh ternyata cukup beragam. Tak hanya bahasa Aceh, warga Tanah Rencong juga berbincang dengan sejumlah dialek lain.
Adapun bahasa digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi. Kemampuan ini muncul sejak manusia dilahirkan.
Lalu, apa saja nama bahasa daerah Aceh? Berikut iNews.id rangkum dari berbagai sumber, Kamis (13/4/2023).
Daftar Nama Bahasa Daerah Aceh
1. Bahasa Aceh
Bahasa Aceh tentunya menjadi bahasa yang paling banyak dituturkan oleh masyarakat Aceh. Secara umum, bahasa ini menjadi kebanggaan para masyarakat Tanah Rencong.
2. Bahasa Gayo
Nama bahasa daerah Aceh berikutnya yakni Gayo. Bahasa ini biasa dituturkan oleh masyarakat Aceh Tengah yang merupakan wilayah pertanian penghasil kopi gayo.
3. Bahasa Temiang
Suku Aceh Temiang biasa menuturkan Bahasa Temiang. Dialeknya kental dengan Bahasa Melayu.
Hanya saja, penuturannya bisa terdengar berbeda. Karena, Suku Aceh Temiang terbagi menjadi dua yakni Suku Temiang Hulu dan Suku Temiang Hilir.
Perbedaan terletak pada kebiasaan warganya dalam menuturkan Bahasa Temian. Misal, Suku Temiang Hulu biasa menuturkan Bahasa Temiang dengan akhiran O seperti "ke mano?". Sementara Suku Temiang Hilir menggunakan akhiran E, misal "ke mane?".
4. Bahasa Pakpak
Nama bahasa daerah Aceh selanjutnya yaitu Bahasa Pakpak. Penutur terbanyak bahasa ini berada di Kabupaten Aceh Singkil.
Bahasa Pakpak ini diyakini berasal dari bahasa yang terdapat di Sumatra Utara (Sumut). Sebab, kawasan Aceh Singkil berbatasan dengan Sumut.
Sehingga, terjadi asimilasi antarkedua daerah. Lantas, Bahasa Pakpak ditetapkan sebagai salah satu bahasa daerah Aceh.
5. Bahasa Singkil
Selain Bahasa Pakpak, masyarakat Aceh Singkil juga saling berkomunikasi menggunakan Bahasa Singkil. Meski dialeknya terdengar mirip, namun masyarakat di sana menolak Bahasa Singkil disamakan dengan Bahasa Pakpak.
6. Bahasa Jamee
Bahasa Jamee atau dikenal Aneuk Jamee juga menjadi salah satu nama bahasa daerah Aceh. Bahasa ini biasa dituturkan masyarakat di Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, dan sebagian kecil Aceh Barat, Simeulue, dan Aceh Singkil.
Secara harfiah, jamee artinya tamu dalam Bahasa Aceh. Sehingga, Bahasa Jamee bisa dimaknai sebagai bahasa tamu.
Bahasa ini mirip dengan bahasa padang karena dibawa oleh perantau Minangkabau. Dialeknya kemudian berakulturasi dengan Suku Aceh, hingga akhirnya diakui menjadi salah satu bahasa daerah.
7. Bahasa Alas
Bahasa Alas bertalian erat dengan Basah Singkil-Julu, Bahasa Batak Pakpak, Bahasa Batak Karo, dan Bahasa Kluet yang akan kita bahas kemudian. Ada tiga dialek yang biasa dituturkan masyarakat Aceh terkait bahasa ini.
Hanya saja, perbedaan ketiga dialek sangat sedikit. Masyarakat Kecamatan Badar biasa menuturkan Bahasa Alas dengan halus, Kecamatan Babussalam dan Lawe Sigala-gala sedang, dan Kecamatan Bambel kasar.
8. Bahasa Kluet
Bahasa Kluet merupakan anak dari Bahasa Gayo dan Bahasa Alas. Sebab, masyarakat Suku Kluet mengerti kedua bahasa tersebut.
Bahasa ini hanya dituturkan di Kabupaten Aceh Selatan, dan memiliki kemiripan dengan bahasa Suku Karo di Sumut.
9. Bahasa Devayan, Sigulai, dan Lekon
Salah satu pulau yang berada di Aceh yakni Pulau Simeulue. Masyarakat di pulau ini berkomunikasi menggunakan tiga bahasa.
Pertama, Bahasa Devayan, yang biasa dituturkan masyarakat di Kecamatan Simeulue Timur, Teupah Selatan Teupah Barat, Simeulue Tengah, dan Teluk Dalam.
Kedua, Bahasa Sigulai, yang umumnya digunakan masyarakat Kecamatan Simeulue Barat, Alafan, dan Salang.
Ketiga, Bahasa Leukon, biasa dituturkan warga Desa Langi dan Lafakha di Alafan.
10. Bahasa Haloban.
Nama bahasa daerah Aceh ini dituturkan oleh Suku Haloban di Kecamatan Pulau Banyak, Aceh Singkil. Beberapa ahli berpendapat, Bahasa Haloban merupakan dialek lain dari Bahasan Devayan di Pulau Simeulue.
Itulah nama bahasa daerah Aceh. Semoga menambah wawasan tentang provinsi yang terletak di ujung barat Indonesia.
Editor : Rizky Agustian
Artikel Terkait