PIDIE JAYA, iNews.id – Dua kepala keluarga di Pidie Jaya, Aceh terpaksa tinggal di gubuk reyot ukuran tiga kali empat meter akibat keterbatasan ekonomi. Pemilik rumah bekerja sebagai nelayan dengan penghasilan Rp100.000 - 150.000 per minggu.
Rumah yang lebih mirip kandang ternak ini milik Samsul Bahri. Dia merupakan warga Desa Meunasah Mee, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.
Gubuk ini dibangun menggunakan tiang bambu bekas. Sementara atapnya menggunakan plastik bekas. Dinding gubuk menggunakan kain spanduk bekas dan lantai masih berupa tanah.
Saat hujan tiba, rumah ini pun bocor di banyak tempat. Belum lagi embusan udara dingin yang masuk lewat sela-sela kain spanduk yang juga usang.
Di dalamnya ada dua kamar dengan kondisi yang tak kalah memprihatinkan. Parahnya lagi, rumah ini berdiri di atas lahan milik orang lain.
Ada lima orang yang tinggal di dalam gubuk ini. Mereka merupakan keluarga Samsul yang terdiri atas istri, anak, menantu serta cucu yang masih balita.
Samsul mengaku sudah 1,5 tahun mendiami gubuk ini. Penghasilannya sebagai nelayan di kapal milik orang lain tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi memperbaiki rumah.
“Penghasilan saya paling banyak Rp150.000 per bulan. Rumah ini berdiri di atas tanah milik orang,” katanya.
Melihat kondisi gubuk Samsul yang miris, sejumlah pemuda di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh mengumpulkan dana seadanya dari kantong pribadi untuk disalurkan kepada keluarga Samsul. Bantuan diberikan dalam bentuk sembako.
Para pemuda ini berharap ada dermawan yang mau membantu membangun satu unit rumah layak huni untuk keluarga malang ini.
Editor : Umaya Khusniah
Artikel Terkait