PIDIE, iNews.id – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh mengutuk keras insiden bentrokan prajurit TNI AD hingga berujung penembakan terhadap warga di Desa Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh.
Tragedi yang terjadi di tengah berlangsungnya acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut mengakibatkan satu orang warga meninggal dunia dan 13 warga lainnya mengalami luka-luka.
Peristiwa berdarah tersebut menuai kecaman luas dari berbagai elemen masyarakat. KontraS Aceh menilai insiden penembakan ini merupakan pelanggaran serius yang wajib diusut tuntas secara menyeluruh dan transparan oleh aparat penegak hukum.
Koordinator KontraS Aceh, Azharul Husna menegaskan, penembakan terhadap warga sipil telah mencederai rasa keadilan dan merusak iklim keamanan masyarakat.
"Insiden penembakan ini telah mencederai rasa keadilan dan keamanan masyarakat, serta mengancam semangat perdamaian yang selama ini dibangun di Tanah Aceh," kata Azharul Husna di Pidie, Kamis (5/11/2026).
Selain mengutuk aksi kekerasan, KontraS Aceh juga menyoroti dugaan pemicu insiden yang berkaitan dengan dinamika pengibaran Bendera Bulan Bintang di lokasi acara.
Husna mengingatkan, penyelesaian polemik simbol daerah seharusnya dilakukan melalui koridor dan mekanisme hukum resmi, tanpa mengabaikan nilai-nilai perdamaian Aceh sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA).
Atas kejadian ini, KontraS Aceh mendesak agar tim penanganan hukum mengungkap kasus secara terbuka, menyeret seluruh pihak yang bertanggung jawab ke ranah peradilan, serta memberikan pemenuhan hak dan keadilan bagi para korban maupun keluarga yang ditinggalkan.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) TNI AD, Brigjen TNI Donny Pramono menjelaskan, bentrokan terjadi saat personel TNI Kodim 0102/Pidie bersama unsur terkait melaksanakan penertiban dan penurunan Bendera Bulan Bintang yang dikibarkan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Sebelum penertiban, anggota TNI-Polri telah melakukan langkah persuasif melalui komunikasi dan mediasi dengan panitia penyelenggara agar bendera tersebut tidak dikibarkan. “Namun, upaya tersebut belum mencapai kesepakatan karena panitia tetap bersikeras mempertahankannya,” ujarnya.
TNI AD juga melakukan langkah antisipasi terhadap rencana kegiatan Syiar Aceh Merdeka di wilayah Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya. Personel Kodim 0102/Pidie bersama personel Bawah Kendali Operasi (BKO) melaksanakan patroli dan komunikasi sosial dengan masyarakat.
Saat proses penertiban di Desa Pulo Keunari, kata Donny, situasi meningkat dan terjadi aksi pelemparan batu serta kayu ke arah personel TNI. Sejumlah orang juga terlihat membawa senjata tajam. Personel telah berupaya menenangkan dan membubarkan massa menggunakan perlengkapan pengendalian huru-hara.
Namun, karena massa terus melakukan tindakan anarkis dan keselamatan personel terancam, dilakukan tindakan pengamanan secara bertahap dengan mengeluarkan tembakan peringatan menggunakan munisi hampa, kemudian munisi karet.
“Setelah massa membubarkan diri, personel TNI menurunkan Bendera Bulan Bintang di lokasi kegiatan. Penertiban tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keamanan wilayah serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkapnya.
Donny menyampaikan keprihatinan dan belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya warga dalam peristiwa tersebut serta berharap seluruh korban luka segera pulih. TNI AD juga terus berkoordinasi dengan aparat terkait untuk memantau perkembangan situasi dan memastikan kondisi wilayah tetap terkendali.
“Dalam menjaga keamanan dan keutuhan NKRI, TNI AD senantiasa mengedepankan langkah persuasif, komunikasi sosial, serta sinergi dengan Polri, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat. Setiap tindakan di lapangan dilaksanakan secara profesional dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku serta keselamatan masyarakat dan personel,” kata dia.
Editor : Kastolani Marzuki
Artikel Terkait