Alih Fungsi Lahan Ancam Manusia dan Satwa di Aceh 

Antara · Senin, 06 September 2021 - 08:46:00 WIB
Alih Fungsi Lahan Ancam Manusia dan Satwa di Aceh 
Harimau sumatra (panthera tigris sumatrae) yang ditemukan terjerat di Gayo Lues. Foto: Antara

BANDA ACEH, iNews.id - Alih fungsi lahan yang masif terjadi di Aceh mengancam manusia dan satwa dilindungi. Manusia kesulitan mencari mata pencaharian sedangkan satwa dilindungi mendekati kepunahan.

Aktivis lingkunan TM Zulfikar meminta alih fungsi lahan pertanian di Aceh harus dikendalikan untuk menyeimbangkan ekosistem. Jika tidak, bukan tidak mungkin konflik manusia dengan hewan di Aceh akan terus berlanjut.

"Manusia kehilangan mata pencaharian seperti lahan pertanian dirusak. Sedang satwa berujung dengan kematian, padahal satwa tersebut merupakan penyeimbang ekosistem," kata TM Zulfikar, Minggu (5/9/2021).

Menurut Zulfikar, kawasan hutan Aceh merupakan habitat alami satwa dilindungi seperti gajah, harimau, orang utan, dan lainnya. Hutan ini harus dilindungi karena manusia juga bergantung hidup dari hutan.

Namun demikian, luas kawasan hutan di Aceh terus menyusut karena alih fungsi lahan dan penebangan liar. Akibatnya, kehidupan satwa-satwa liar tersebut menjadi terdesak sehingga mengganggu lahan warga.

"Dampaknya, satwa liar terpaksa mencari mangsa di luar kawasan hutan. Bahkan ada yang mendekati permukiman penduduk," kata mantan Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh itu.

Dia meyakini solusi yang ada untuk mengakhiri konflik manusia dengan hewan termasuk menjaga eksistensi hewan dilindungi melalui tata kelola hutan. Artinya pemangku kebijakan harus mulai menyusun kebijakan konkret mengenai hal ini.

"Mengakhiri konflik bukan hanya untuk keselamatan manusia, tetapi juga keberlangsungan hidup satwa-satwa liar. Apalagi, sebagian satwa liar dilindungi tersebut sudah masuk kategori kritis, jadi, kedua pihak harus terselamatkan," katanya.

Editor : Erwin C Sihombing