Cuma Modal Pistol, Jenderal Kopassus Ini Selamat dari Kepungan 120 Pasukan GAM

Sucipto ยท Selasa, 15 Maret 2022 - 09:24:00 WIB
Cuma Modal Pistol, Jenderal Kopassus Ini Selamat dari Kepungan 120 Pasukan GAM
Prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD. (Foto/Pen Kopassus)

JAKARTA, iNews.id - Seorang jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) pernah menghadapi kepungan ratusan pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan modal pistol. Situasai ini terjadi ketika sang jenderal berhadapan dengan Nurdin Ismail alias Din Minimi.

"Saat itu saya bawa pistol, anak buah saya bawa AK. Saya juga bawa cadangan magazine penuh, sudah saya kokang saya kunci. Untuk jaga-jaga," begitu kata Letjen TNI (Purn) Sutiyoso dalam kanal YouTube Refly Harun yang dikutip, Selasa (15/3/2022).

Din Minimi merupakan pimpinan kelompok bersenjata mantan anggota GAM paling dicari usai penandatanganan kesepakatan Helsinki di Finlandia pada 15 Agustus 2005. Pasalnya, sepak terjang Din Minimi dan pasukannya sangat meresahkan masyarakat dan aparat.

Kisah ini berawal ketika Sutiyoso yang saat itu menjabat Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) melaporkan kepada Presiden Joko Widodo untuk penanganan kelompok GAM di Aceh. Sutiyosi memaparkan penanganan yang digunakan soft power. 

"Saya pikir yang belum aman Aceh dan Papua. Ini cuma satu kelompok maka saya selesaikan dulu ini," kenang Sutiyoso.

Usai disetujui, pria yang pernah menjabat Wadanjen Kopassus ini memutuskan untuk terjun langsung ke medan operasi. Sutiyoso masuk ke hutan untuk mencari persembunyian Din Minimi. Tentu saja, dia tidak sendirian. Kali ini Sutiyoso ditemani dua anak buahnya yakni Kapten Desna dan Sersan Wayan.

Setelah melalui perjalanan panjang dengan medan yang berat, dia akhirnya berhasil menemukan markas Din Minimi di tengah hutan. 

"Waktu saya sampai digubuknya jam 18.30 WIB, sudah gelap gulita di tengah hutan," katanya.

Letjen TNI (Purn) Sutiyoso (foto: Oktorizki Alpino)
Letjen TNI (Purn) Sutiyoso (foto: Oktorizki Alpino)

Saat itu, Sutiyoso melihat Din Minimi sedang berada di atas pakai kaos loreng, celana loreng, dan senjata sudah ditrigger.

Situasi semakin mencekam karena Din Minimi ternyata tidak sendiri. Pentolan kelompok bersenjata itu didampingi oleh ratusan pengikutnya dengan persenjataan lengkap. Mereka langsung mengepung Sutiyoso bersama dua anak buahnya.

"Saya bertiga aja. Kita ke tempat dia. Dikepung 120 orang di tempat Din Minimi. Kalau mau populer bantai saja atau saya disandera tetapikan saya bukan bonek (bondo nekat)," katanya.

"Saya ada latar belakang, ada keyakinan gitu," lanjutnya.

Meski dikepung, Sutiyoso tak gentar. Pasalnya, dia sudah terbiasa menghadapi situasi genting di medan operasi. Dengan senjata yang sudah dikokang dan siap diletusan tersebut, Sutiyoso kemudian mengajak kelompok tersebut untuk berdialog.

Dengan tenang dan penuh kewaspadaan tinggi, Sutiyoso melakukan strategi soft approach atau persuasif. Dia mengajak Din Minimi serta pengikutnya berdialog.

"Tapi aku juga ngomong, Din, aku bertiga bawa senjata enggak apa-apakan? itu semuanya saya declare aja, supaya dia paham macam-macam, kamu mati juga, kira-kira begitu. Saya bilang sama mereka jangan konyol," katanya.

Sutiyoso saat itu juga berusaha berkomunikasi dengan Dinimi.

"Sempat saya ngomong, Din, aku ini hanya tiga orang, mana menang lawan 120 orang. Kenapa saya berani, karena saya percaya kamu, maka saya minta kamu percaya juga," katanya.

Setelah berdialog cukup panjang dan alot, upaya Sutiyoso menaklukkan Din Minimi dan pengikutnya berhasil tanpa letusan peluru dan satupun korban jiwa.

Din Minimi akhirnya mau kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

"Jam 05.00 dia baru final menyerah. Walaupun dia kaku tapi sempat bilang kepada anak buahnya untuk menyerah. Kemudian 10 orang mambawa senjata 60 senjata, diserahkan langsung ke Jakarta di antar bupatinya," kata Sutiyoso.

Editor : Nur Ichsan Yuniarto

Follow Berita iNewsAceh di Google News

Bagikan Artikel: