Luncurkan Katana, Kepala BNPB Doni Monardo: Bencana Urusan Kita Bersama

Irfan Ma'ruf ยท Selasa, 10 Desember 2019 - 18:20:00 WIB
Luncurkan Katana, Kepala BNPB Doni Monardo: Bencana Urusan Kita Bersama
Kepala BNPB Doni Monardo (tengah) menyerahkan modul Katana kepada Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah di Pantai Pasie Jantang, Aceh Besar, Jumat ( 6/12/2019). (Foto: BNPB).

ACEH BESAR, iNews.id – Pelepasan lima ekor merpati putih ke udara disusul tabuhan instrumen khas Aceh Rapai menandai peluncuran Program Keluarga Tangguh Bencana (Katana) yang digagas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Aceh Besar, Aceh. Katana menjadi wujud kebersamaan seluruh unsur dalam memahami dan merespons bencana.

Kepala BNPB Doni Monardo menuturkan, urusan bencana tidak dapat dibebankan pada satu pihak. Karena menjadi urusan bersama itu lah, Katana menjadi fokus BNPB. Terlebih keluarga, merupakan kelompok terkecil paling rentan terdera karena bencana.

"Seandainya saja warga Aceh mengetahui dan memahami risiko serta bagaimana mereka merespons, korban tidak akan banyak seperti saat itu," ujar Doni. Pernyataan ini disampaikan saat Doni menginap dua malam di tepi Pantai Pasie Jantang, Aceh Besar, mulai Jumat (6/12/2019).

Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengamini pernyataan tersebut. Di tepi pantai dengan pemandangan elok Doni kemudian menyerahkan setumpuk buku Katalog Bencana. Buku ini berisi aneka ancaman bencana di Tanah Air, sebagai bahan edukasi kepada seluruh masyarakat.

Keberadaan Doni yang dua malam tidur di tenda biru BNPB juga menyelipkan sebuah pesan penting bagi masyarakat di seluruh Indonesia, bahkan dunia, bahwa Aceh sangat aman.

Kehadiran Doni di tengah-tengah masyarakat juga menunjukkan satunya kata dan perbuatan sebagai seorang prajurit Sapta Marga. Dalam banyak kesempatan, Doni kerap menyitir filosofi terkenal dari Lao Tze, “Temuilah rakyatmu. Hiduplah bersama mereka, mulai dari apa yang ada.”

“Dengan begini, kita bisa merasakan betul denyut nadi rakyat. Dalam konteks program Katana, kita menjadi tahu seberapa paham rakyat, khususnya rakyat Aceh terhadap potensi bencana gempa dan tsunami,” ujar mantan Danjen Kopassus itu.

Keluarga Tangguh Bencana
Pada 15 tahun lalu, tepatnya 26 Desember 2004, gempa bumi berskala mahabesar terjadi di Samudera Hindia, 25 km barat laut Aceh. Selang 30 menit kemudian tsunami meluluhlantakkan Serambi Mekah. Tak kurang dari 230.000 nyawa melayang, dengan kerugian material yang ditaksir mencapai Rp7 triliun.

Jumlah korban sebanyak itu, terjadi karena “ketidaktahuan” masyarakat tentang bahaya tsunami pascagempa besar. Akibat patahan lempeng dasar laut, terjadi gempa dahsyat. Air laut pun menyusut cepat.

Laut Aceh yang terkenal banyak ikannya, sontak menjadi pemandangan menarik. Masyarakat yang sedang berada di pantai saat gempa, bukannya lari menjauh, malah menghambur ke pantai dan memunguti ikan-ikan.

Tidak satu pun yang menyangka, susutnya air segera disusul naiknya kembali permukaan laut dalam bentuk “monster tsunami” yang mematikan. Ribuan manusia di pinggir pantai pun tersapu.

“Saya bisa merasakan betul derita masyarakat Aceh, karena saat tsunami terjadi saya ada di sini. Jika saya selamat, itu karena posisi tugas saya jauh dari pantai,” ujar Doni.

Mengenang 15 tahun peristiwa tsunami itu, BNPB pun mengagas sebuah program prioritas yang dinamakan “Keluarga Tangguh Bencana” atau Katana. Program itu diresmikan di tepi pantai Pasie Jantang, Kecamatan Lhong, Aceh Besar, sekaligus mengenang dan mendoakan para korban.

"Melalui program Katana, diharapkan setiap keluarga paham apa itu tsunami dan bagaimana menghadapinya,” ujar Doni, Minggu (8/12/2019) pagi saat peluncuran.

Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) sebagai tuan rumah, dipuji Doni telah bekerja sangat baik. Ratusan keluarga, yang terdiri atas ibu-ibu rumah tangga, pekerja sosial, pelajar, dan prajurit, sangat tekun mengikuti ruang kelas yang diisi oleh para pemateri dari BNPB dan instansi pendukung, seperti BMKG, Arsip Nasional, dan lain-lain. Peserta juga mendapat “Modul Katana”.


Editor : Zen Teguh