Pahlawan Nasional dari Aceh, Nomor 8 Bunuh Penjelajah Belanda di Atas Kapal
JAKARTA, iNews.id - Pahlawan nasional dari Aceh ini turut memperjuangkan dan berperang demi kemerdekaan Bangsa Indonesia. Mereka bersusah payah angkat senjata untuk merebut kembali tanah air dari tangan penjajah.
Dilansir dari laman direktoratk2krs.kemsos.go.id, Kamis (28/7/2022). Ada enam pahlawan nasional dari Aceh yang tercatat secara resmi.
Pemberian gelar pahlawan nasional telah diatur dalam UU No. 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.
Siapa saja pahlawan nasional dari Aceh, berikut daftarnya:

Pahlawan Nasional dari Aceh pertama yakni Teuku Muhammad Hasan. Beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2006 oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Pengangkatannya itu tertuang melalui Surat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 085/TK/Tahun 2006 tertanggal 3 November 2006.
Teuku Muhammad Hasan lahir di Pidie, Aceh, pada 4 April 1906. Dia menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai oleh Sukarno.
Dia juga pernah menjadi Gubernur Wilayah Sumatra pertama setelah Indonesia merdeka tahun 1945. Teuku Muhammad Hasan meninggal di Jakarta pada 21 September 1997.

Selanjutnya ada Teuku Nyak Arif. Pria kelahiran Ulee Lheue Banda Aceh pada 17 Juli 1899 ini diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada tahun 1974.
Pengangkatannya ini berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 071/TK/1974 tanggal 9 November 1974
Semasa hidupnya, Teuku Nyak Arif pernah menjadi Residen Aceh, pada tanggal 3 Oktober 1945 dengan surat ketetapan No. 1/X dari Gubernur Sumatra, Teuku Muhammad Hasan.
Teuku Nyak Arif meninggal pada tanggal 4 Mei 1946 di Takengon, Aceh.

Pahlawan Nasional dari Aceh yakni Cut Nyak Mutia. Pejuang perempuan itu lahir di Keureutoe, Aceh Utara, pada 15 Februari 1870.
Gelar Pahlawan Nasional ini tertuang dalam Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964 tanggal 2 Mei 1964.
Semasa hidupnya, Cut Meutia berjuang bersama pasukan Inong Balee melawan penjajah Belanda. Sayangnya, dia gugur pada pada 24 Oktober 1910 dalam usia 40 tahun.
Saat itu dia ikut pertempuran dengan pasukan Belanda di Alue Kurieng, Aceh Utara,
Pemerintah Republik Indonesia kemudian mengabadikannya ke uang pecahan Rp1.000 baru Republik Indonesia.

Kemudian ada pahlawan Teuku Umar. Pahlawan yang lahir di Meulaboh, Aceh pada tahun 1854.
Teuku Umar diangkat Pahlawan Nasional lewat Surat Keputusan No Sk 087/TK/1973 tanggal 6 November 1973.
Ketika perang Aceh meletus pada 1873 Teuku Umar ikut serta berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, umurnya baru menginjak 19 tahun. Pada usia 20 tahun, beliay menikah dengan Cut Nyak Dhien.
Teuku Umar pernah berpura-pura bekerjasama dengan Belanda. Hal ini merupakan taktik untuk mendapatkan senjata dan uang untuk pejuang lainnya.
Teuku Umar gugur 11 Februari 1899 saat melawan pasukan Belanda yang dipimpin Van Heutsz di Suak Ujong Kalak, Meulaboh. Jenazahnya dimakamkan di Mesjid Kampung Mugo di Hulu Sungai Meulaboh.
Nama Teuku Umar juga diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah di tanah air. Salah satu kapal perang TNI AL dinamakan KRI Teuku Umar (385).

Cut Nyak Dhien merupakan istri dari Teukur Umar. Dia lahir di Lampadang, Aceh Besar, pada 1848.
Pemerintah mengangkat Cut Nyak Dhien sebagai Pahlawan Nasional lewat Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 106/TK/1964 tanggal 2 Mei 1964.
Cut Nyak Dhien dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Aceh Besar. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang VI Mukim. Dia merupakan keturunan Datuk Makhudum Sati, perantau dari Minangkabau.
Datuk Makhudum Sati merupakan keturunan dari Laksamana Muda Nanta yang merupakan perwakilan Kesultanan Aceh pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda di Pariaman.
Cut Nyak Dhien merupakan ahli dalam agama Islam, sehingga ia dijuluki sebagai Ibu Perbu.
Pergerakannya melawan Belanda dimulai setelah suaminya Teuku Umar wafat. Cut Nyak Dien memimpin perlawanan ke Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya. Setelah bertahun-tahun, kondisi kesehatan Cut Nyak Dien menurun. Salah seorang panglimanya, Pang Laot Ali merasa iba dengan kondisinya
Dia membuat perjanjian dengan Belanda. Syaratnya, Belanda harus merawat Cut Nyak Dhien. Belanda setuju, lalu ditawankan Cut Nyak Dhien dan dibawa ke Banda Aceh.
Dalam pengawasan Belanda, Cut Nyak Dhien masih berkomunikasi dengan para pejuang, ternyata hal ini terendus penjajah. Akhirnya dia diasingkan ke Sumedang. Pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dhien meninggal karena usianya yang sudah tua.

Teungku Chik Ditiro Muhammad Saman menjadi pahlawan nasional dari Aceh selanjutnya. Dia lahir di Dayah Jrueng kenegerian Cumbok Lam Lo, Tiro, Pidie, pada 1 Januari 1836.
Teungku Chik Ditiro menjadi pahlawan nasional lewat Surat Keputusan (SK) No SK 087/TK/1973 tertanggal 6 November 1973
Selain ulama, dia merupakan Panglima besar perang Aceh. Dia menjadi pemimpin perang ketika perlawanan terhadap Belanda mulai menyurut pada 1881.
Teungku Chik Ditiro meninggal pada tahun 1891 karena diracun oleh seorang perempuan Aceh. Racun itu dicampurkan ke makanan. Dia dimakamkan di Desa Meureu, Indrapuri.

Sultan Iskandar Muda mempunyai nama asli Paduka Seri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam. Lahir tahun 1583 di Bandar Aceh Darussalam.
Pemerintah Republik Indonesia mengangkat Sultan Iskandar Muda sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 14 September 1993.
Sultan Iskandar Muda merupakan raja besar yang membawa Aceh ke zaman keemasan. Dia berkuasa pada 1607-1636. Di masa kepemimpinannya, Aceh menguasai Sumatera dan sebagian daerah Malaysia seperti Johor dan Kedah.
Aceh juga menyerang Portugis di Malaka pada masa pemerintahannya. Dia memimpin Kerajaan Aceh Darussalam selama lebih kurang 30 tahun yaitu (1606-1636 M).
Sultan Iskandar Muda wafat pada tahun 1636 M dan makamnya terletak dalam komplek Kandang Mas di Banda Aceh yang telah pernah dihancurkan Belanda.
Nama Sultan Iskandar Muda diabadikan sebagai nama bandar udara internasional Sultan Iskandar Muda di Aceh.

Laksamana Malahayati merupakan seorang pejuang perempuan pada masa Kesultanan Aceh Darussalam. Dia lahir di Aceh Besar pada tahun 1550.
Laksamana Malahayati merupakan putri dari Laksamana Mahmud Syah. Malahayati pernah menjadi Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.
Pada 11 September 1599, malahayati memimpin 2000 orang pasukan Inong Balee (janda pahlawan yang gugur) untuk berperang melawan kapal serta benteng Belanda.
Dalam perlawanannya tersebut dia membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal.
Gelar Laksamana kemudian disematkan karena keberaniannya ini. Beliau meninggal pada tahun 1615, makamnya berada di bukit Krueng Raya, Lamreh, Aceh Besar.
Gelar Pahlawan Nasional diberikan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017 tanggal 6 November 2017.
Editor: Nur Ichsan Yuniarto