Tito menjelaskan Aceh Tamiang menjadi prioritas penanganan karena tingkat kerusakannya paling berat dibanding daerah lain di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
“Dua indikator utama pemulihan itu pemerintahan berjalan normal dan ekonomi hidup kembali. Di Aceh Tamiang, dua minggu lalu dua-duanya belum berjalan optimal,” ujarnya.
Dia menerangkan, Praja IPDN Aceh Tamiang akan bertugas selama satu bulan dan membawa perlengkapan kerja sendiri, mulai dari sekop, cangkul, hingga logistik pribadi. Mereka ditugaskan membersihkan kantor pemerintahan, mendampingi ASN daerah, serta membantu mengaktifkan kembali layanan publik yang sempat lumpuh akibat bencana.
Penugasan ini merupakan bagian dari kurikulum IPDN dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan menjadi komponen penilaian akademik Praja.
Editor : Donald Karouw
Artikel Terkait