ACEH TAMIANG, iNews.id – Kondisi memprihatinkan masih dialami puluhan Kepala Keluarga (KK) di Desa Baling Karang, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang.
Meski bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang wilayah Aceh sudah berlalu lebih dari satu bulan, warga desa tersebut hingga kini masih terisolasi akibat putusnya akses jembatan penghubung utama.
Jembatan yang menjadi nadi transportasi warga hancur diterjang material banjir bandang beberapa waktu lalu, meninggalkan warga tanpa pilihan akses darat.
Untuk keluar masuk desa, termasuk saat mengambil bantuan logistik, warga terpaksa menggunakan perahu kecil milik warga setempat. Perjuangan ini pun tidak gratis dan penuh risiko.
Warga harus merogoh kocek sebesar Rp20.000 untuk sekali menyeberang demi melintasi arus sungai yang seringkali tidak menentu.
"Kami terpaksa lewat sungai pakai perahu. Biayanya Rp20.000 sekali jalan. Kalau air lagi naik, kami tidak berani menyeberang, jadi benar-benar terputus," ujar Boy Sandi, salah seorang warga yang terdampak, Kamis (1/1/2026).
Selain masalah akses, beban psikologis juga menghantui warga. Setiap kali mendung menyelimuti langit atau hujan mulai turun, warga Desa Baling Karang dirundung rasa cemas akan adanya banjir susulan atau longsor yang bisa kembali melanda pemukiman mereka.
Wira Taufan, warga lainnya, mengungkapkan bahwa kehidupan warga saat ini sangat bergantung pada kondisi alam.
"Setiap hujan turun, kami selalu waswas. Takut kalau air naik lagi seperti bulan lalu. Kami sangat berharap jembatan segera diperbaiki agar aktivitas normal kembali," ungkapnya.
Editor : Kastolani Marzuki
Artikel Terkait