Kisah Inong Balee, Pejuang Janda Aceh Ikon Perlawan Perempuan saat Lawan Belanda
Keumalahayati dilahirkan di Aceh Besar pada tahun 1550. Pada masa kanak-kanak dan remaja, dia mendapat pendidikan istana. Keumalahayati masih berkerabat dengan Sultan Aceh.
Ayah dan kakeknya berbakti di Kesultanan Aceh sebagai Panglima Angkatan Laut. Dari situlah semangat kelautan Keumalahayati muncul. Dia kemudian mengikuti jejak ayah dan kakeknya dengan menempuh pendidikan militer jurusan angkatan laut di akademi Baitul Maqdis.
Pada 1585–1604, dia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.
Keumalahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda tanggal 11 September 1599 sekaligus membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal.
Dalam buku "Laksamana Malahayati: Sang Perempuan Keumala" oleh Endang Moerdopo disebutkan, bahwa Malahayati menjadi Panglima Angkatan Perang kerajaan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Al Mukammil (1589-1604). Pangkat ini didapat karena dia berhasilmemimpin pasukan wanita, Inong Balee.
Ino Balee dibentuk dari ide Malahayati. Pasukan yang terdiri dari wanita janda itu dibentuk dengan maksud agar para janda tersebut dapat menuntut balas kematian suaminya. Ino Balee bukan pasukan kaleng-kaleng. Mereka juga mempunyai benteng pertahanan.
Editor: Nur Ichsan Yuniarto