Upacara Adat Aceh, Sarat Nuansa Religius

Amelia Ayu Aldira ยท Kamis, 08 September 2022 - 09:46:00 WIB
Upacara Adat Aceh, Sarat Nuansa Religius
Upacara adat Aceh hingga kini terus dilestarikan sebagai salah satu kebudayaan Indoensia. (Foto: Antara).

ACEH, iNews.id - Upacara adat Aceh hingga kini terus dilestarikan sebagai salah satu kebudayaan Indoensia. Kebudayaan Aceh diwarnai dengan beragam jenis kesenian dan upacara adat yang merupakan satu aspek yang kental bagi kehidupan masyarakat Aceh. 

Indonesia dikenal memiliki berbagai macam upacara adat yang berbeda-beda sesuai dengan suku, kebiasaan dan daerah. Salah satunya Aceh.

Upacara adat Aceh biasanya dilakukan pada saat perayaan tertentu secara turun-temurun sebagai tanda rasa syukur. 

Berikut beberapa upacara adat Aceh yang masih dilestarikan:

1. Peusijuek

Disebut tepung tawari. Dalam masyarakat Aceh, upacara ini dianggap sebagai upacara tradisional simbolis untuk mencari keamanan, kedamaian, kebahagiaan, berkah dan saling memaafkan. 

Sebagian besar wilayah adat Aceh menampung prosesi upacara Peusijuek seperti upacara pernikahan, sunat rasul, Peusijuek Meulangga (bertengkar), Peusijuek pada bijeh (tanam padi), Peusijuek rumah baroe (rumah baru), Peusijuek Keurubeuen (hari raya qurban), Peusijuek jak haju (naik haji) dan masih banyak lagi.

Biasanya saat melakukan upacara Peusijuek, seorang Tengku (ulama) atau sesepuh (Majelis adat) diperkenalkan sebagai pemimpin upacara. Ritual ini terkadang diikuti dengan doa bersama yang dipimpin oleh Tengku untuk menerima berkah dan rahmat dari Allah SWT. 

2. Meugang

Salah satu tradisi meugang ini juga masih dilestarikan oleh mayoritas penduduk Aceh. Tradisi ini konon sudah dimulai pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, ketika Islam menyebar ke Aceh sekitar abad ke-14 Masehi. 

Tradisi meugang dilakukan oleh kerajaan di keraton yang dihadiri oleh sultan, menteri, pejabat kerajaan dan ulama. Saat itu, raja memerintahkan rumah-rumah pekerja, badan yang menangani fakir miskin dan duafa untuk mendistribusikan daging, pakaian, dan beras kepada yang lebih membutuhkan. 

Semua biaya ditanggung oleh bendahara silaturahmi, badan yang mengurus hubungan negara dan rakyat di kerajaan Aceh Darussalam.

Ada yang menyebutkan, tradisi Meugang dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada raja karena telah menyambut bulan Ramadhan, sehingga sapi dan kerbau disembelih dan dagingnya dibagikan kepada masyarakat. 

Editor : Kurnia Illahi

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: