Pahlawan Nasional dari Aceh, Nomor 8 Bunuh Penjelajah Belanda di Atas Kapal

Cut Nyak Dhien merupakan istri dari Teukur Umar. Dia lahir di Lampadang, Aceh Besar, pada 1848.
Pemerintah mengangkat Cut Nyak Dhien sebagai Pahlawan Nasional lewat Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 106/TK/1964 tanggal 2 Mei 1964.
Cut Nyak Dhien dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Aceh Besar. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang VI Mukim. Dia merupakan keturunan Datuk Makhudum Sati, perantau dari Minangkabau.
Datuk Makhudum Sati merupakan keturunan dari Laksamana Muda Nanta yang merupakan perwakilan Kesultanan Aceh pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda di Pariaman.
Cut Nyak Dhien merupakan ahli dalam agama Islam, sehingga ia dijuluki sebagai Ibu Perbu.
Pergerakannya melawan Belanda dimulai setelah suaminya Teuku Umar wafat. Cut Nyak Dien memimpin perlawanan ke Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya. Setelah bertahun-tahun, kondisi kesehatan Cut Nyak Dien menurun. Salah seorang panglimanya, Pang Laot Ali merasa iba dengan kondisinya
Dia membuat perjanjian dengan Belanda. Syaratnya, Belanda harus merawat Cut Nyak Dhien. Belanda setuju, lalu ditawankan Cut Nyak Dhien dan dibawa ke Banda Aceh.
Dalam pengawasan Belanda, Cut Nyak Dhien masih berkomunikasi dengan para pejuang, ternyata hal ini terendus penjajah. Akhirnya dia diasingkan ke Sumedang. Pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dhien meninggal karena usianya yang sudah tua.

Teungku Chik Ditiro Muhammad Saman menjadi pahlawan nasional dari Aceh selanjutnya. Dia lahir di Dayah Jrueng kenegerian Cumbok Lam Lo, Tiro, Pidie, pada 1 Januari 1836.
Teungku Chik Ditiro menjadi pahlawan nasional lewat Surat Keputusan (SK) No SK 087/TK/1973 tertanggal 6 November 1973
Selain ulama, dia merupakan Panglima besar perang Aceh. Dia menjadi pemimpin perang ketika perlawanan terhadap Belanda mulai menyurut pada 1881.
Teungku Chik Ditiro meninggal pada tahun 1891 karena diracun oleh seorang perempuan Aceh. Racun itu dicampurkan ke makanan. Dia dimakamkan di Desa Meureu, Indrapuri.
Editor: Nur Ichsan Yuniarto